‎Keteguhan Hati dalam Mencari Rezeki: Cermin Keimanan Seorang Muslim

‎Keteguhan Hati dalam Mencari Rezeki: Cermin Keimanan Seorang Muslim

Oleh: Chandra Aditya
(Anggota Majelis Tabligh PDM Kota Kediri)


‎Saudara ku di sebuah sudut SPBU, terlihat seorang bapak tua duduk sederhana dengan topi hitamnya. Di tangannya tergenggam sebuah keranjang berisi pisang rebus dan tahu goreng  yang ia jual. Di usianya yang sudah renta, ia tetap berusaha mencari rezeki dengan keringat sendiri, tanpa bergantung pada belas kasihan orang lain. Pemandangan ini sesungguhnya menyimpan pesan besar tentang makna hidup untuk diri kita.


‎‎Mencari Rezeki Halal

‎‎Islam menjadikan cara mencari rezeki yang halal sebagai bagian dari ibadah. Bahkan Nabi Shalallahu ‘Alaihi Wasallam menyatakan “Tidaklah seorang memakan makanan yang lebih baik dari hasil usaha tangannya sendiri. Dan sungguh Nabi Dawud makan dari hasil usahanya sendiri”. (Hadist Riwayat Bukhari)

‎‎Oleh karena itu kita melihat betapa mulianya seseorang yang meskipun sudah tua, tetap memilih jalan yang halal, sekalipun hasilnya tidak seberapa. Tidak ada keraguan bahwa usaha kecil yang dilakukan dengan hati yang ikhlas lebih bernilai di sisi Allah dibandingkan dengan harta banyak  yang diperoleh dengan cara haram.

‎‎Usaha bapak tua ini juga menjadi pengingat untuk dirikita bahwa ikhtiar tidak mengenal usia. Tawakkal kepada Allah bukanlah duduk diam menunggu datangnya pertolongan, melainkan harus terus bergerak, berusaha, dan  menyerahkan sepenuhnya kepada Sang Pemberi Rezeki. 

‎Kita sering mendengar, sabda Rasulullah tentang Seekor burung yang keluar dari sarangnya di pagi hari lalu kembali di sore hari dalam keadaan kenyang adalah contoh nyata dari hakikat tawakkal. Demikian pula kita sebagai manusia, hendaknya tidak meninggalkan ikhtiar meskipun mungkin usia sudah tidak muda lagi.

‎‎Di balik sosok bapak tua yang hebat itu , ada buah kesabaran yang luar biasa. Tidak peduli Panas, hujan, dan beban hidup  yang tidak menyurutkan langkah kakinya untuk tetap berjualan. Kesabaran dalam menghadapi keterbatasan adalah tanda keteguhan iman. Allah  menjanjikan kabar gembira untuk mereka yang selalu bersabar:

‎‎”Dan sampaikan kabar gembira kepada orang-orang yang sabar”
(Qs. Al-Baqarah: 155)

‎Dan di dalam kesabaran itulah tersimpan kekuatan yang membuat seorang Muslim tetap kuat, meskipun segala macam ujian kehidupan terus menimpa.

‎‎Saudara ku pemandangan seperti ini seharusnya juga menjadi cermin untuk  generasi muda. Jika seorang bapak tua saja masih berjuang mencari rezeki dengan cara yang halal, bagaimana mungkin anak muda yang tubuhnya masih kuat justru bermalas-malasan, atau bahkan mencari jalan pintas yang haram?  Lelah karena bekerja mencari yang halal adalah kelelahan yang mendatangkan ampunan Allah, sedangkan kemalasan hanya akan menjadikan sebuah penyesalan.

‎‎Rasulullah juga memperingatkan dengan sabdanya:
“Barangsiapa yang terus-menerus meminta-minta kepada manusia, maka di Hari Kiamat ia akan datang dalam keadaan wajahnya tidak ada dagingnya sama sekali.”
(HR. Bukhari dan Muslim)

‎‎Hadits ini mengingatkan kita bahwa meminta-minta tanpa kebutuhan yang mendesak adalah kehinaan di dunia sekaligus azab di akhirat. Sebaliknya, bapak tua penjual pisang dan tahu goreng  ini lebih memilih menjaga kehormatan dirinya dengan tetap berusaha mencari nafkah, walaupun dengan cara yang sederhana.

‎
‎‎Penutup

‎‎Gambar sederhana tentang bapak tua penjual pisang dan tahu goreng di sudut SPBU ini bukan sekadar potret sosial, melainkan cermin keteguhan  keimanan yang nyata. Dari sana kita bisa belajar tentang kesungguhan mencari rezeki halal, keteguhan hati dalam bertawakkal, kesabaran dalam menjalani hidup, dan juga teguran bagi mereka yang masih muda agar tidak bermalas-malasan.

‎‎Semoga Allah menjadikan kita termasuk hamba-hambanya yang selalu ikhlas dalam berusaha, bersabar dalam menghadapi setiap ujian, serta selalu menyerahkan segala urusan hanya kepada Allah.

‎

‎‎* Foto ini saya ambil dari dalam mobil ketika akan safar ke Surabaya, sengaja dijadikan model kartun untuk menjaga privasi beliau.

Mengapa Nasehat Harus Selalu Diulang

Oleh : Chandra Aditya
(Anggota Majelis Tabligh PDM Kota Kediri)

‎Saudara ku dalam kehidupan sehari-hari, seringkali kita mendengar nasihat yang sama diulang-ulang. Entah dari orang tua, guru, ustaz, ataupun para ulama. Terkadang muncul sebuah pertanyaan, “Mengapa nasihat harus diulangi terus, padahal sudah pernah disampaikan?”.

Kalau kita melihat dengan pandangan Islam, tentunya pengulangan nasihat itu justru memiliki hikmah dan nilai yang sangat besar. ‎Kita sebagai manusia pada dasarnya adalah makhluk yang mudah lupa. Oleh karena itulah, manusia sangat membutuhkan pengingat. Allah sudah menegaskan dalam Al-Qur’an:
‎
‎‎“Dan tetaplah memberi peringatan, karena sesungguhnya peringatan itu bermanfaat bagi orang-orang yang beriman.”
‎(QS. Adz-Dzariyat: 55)
‎
‎‎Ayat ini menunjukkan bahwa nasihat yang diulang-ulang bukanlah hal yang sia-sia, melainkan sarana agar hati yang lalai kembali sadar.
‎
‎Nasihat juga ibarat obat hati. Sebagaimana tubuh membutuhkan makanan setiap hari agar kuat, hati pun juga memerlukan makanan iman secara terus-menerus agar tetap hidup. Rasulullah Shalallahu ‘Alaihi Wasallam sering mengulang-ulang nasihat penting kepada para sahabatnya, terutama tentang pentingnya salat, memiliki akhlak yang baik, serta menjaga lisan. Hal ini dilakukan karena hati manusia bisa mengeras, dan hanya dengan pengingat yang terus diberikan hati dapat menjadi lembut kembali.
‎
‎Selain itu ilmu dan pesan nasihat kebaikan yang hanya didengar sekali mudah hilang begitu saja. Dengan pengulangan, nasihat akan lebih kuat tertanam di dalam jiwa. Bahkan Al-Qur’an pun berulang kali menceritakan kisah para nabi dan mengingatkan kita tentang kebesaran Allah serta hari kiamat. Semua itu memiliki hikmah yang besar, yaitu agar manusia semakin ingat, semakin paham, dan semakin siap dalam menghadapi kehidupan.
‎
‎Nasihat yang terus kali diulang, disampaikan, bukan berarti hanya untuk orang lain saja, tetapi juga untuk diri kita sendiri. Setiap kali mendengar nasihat, sesungguhnya itu adalah cermin bagi hati kita, agar kembali muhasabah. Bahkan seorang ustaz atau ulama, ketika menyampaikan nasihat, sebenarnya sedang menasihati dirinya terlebih dahulu.
‎
‎Pengulangan nasihat juga merupakan wujud kasih sayang. Orang tua yang tak pernah lelah mengingatkan anaknya untuk salat, guru yang terus selalu mengingatkan pentingnya kejujuran, atau ulama yang berkali-kali menyeru umat agar bertakwa semuanya itu adalah tanda perhatian, kepedulian serta kasih sayang. Karena sekali saja manusia lalai, ia bisa terjerumus dalam dosa yang besar.
‎
‎Lebih dari itu, setiap zaman ada masanya, dan setiap masa ada orangnya. Kita juga perlu mengingat bahwa akan selalu ada generasi penerus kedepan yang hadir, maka nasihat harus terus diulang agar mereka pun mendapatkan bimbingan. Apa yang kita dengar hari ini bisa menjadi bekal penting bagi anak-anak kita di masa depan. Dengan demikian, nasihat tidak akan pernah hilang, justru selalu relevan dari waktu ke waktu.

Belum tentu pula semua orang di sekitar kita sudah memahami agama. Ada yang baru belajar, ada yang masih lalai, bahkan ada yang sama sekali belum mengenalnya dengan baik. Oleh karena itu dengan terus menyampaikan nasihat, yang belum tahu akan menjadi tahu, yang lupa bisa diingatkan, dan yang sudah paham akan semakin kuat dalam keyakinannya.
‎
‎Rasulullah Shalallahu ‘Alaihi Wasallam sudah mengingatkan kita bahwa: ‎ “agama adalah nasihat”. (HR. Muslim)
‎
‎Tentunya ini mengisyaratkan bahwa nasihat adalah inti dari agama, sehingga memang harus disampaikan terus-menerus.
‎
‎Saudara ku mengulang-ulang nasihat bukanlah tanda kebosanan, melainkan tanda kasih sayang. Sebagaimana Al-Qur’an berulang kali mengingatkan kita tentang tauhid, sabar, syukur, dan takwa, demikian pula nasihat dalam kehidupan kita sehari-hari.

Nasihat adalah cahaya penuntun, pengingat yang akan menyelamatkan, dan pengulangan adalah bukti cinta dan kasih sayang. Setiap zaman akan berganti, setiap generasi akan lahir, dan tidak semua orang memahami agama dengan baik. Maka selama itu pula, nasihat harus terus disampaikan, agar manusia selalu berada di jalan kebenaran.

Kasih Sayang Orang Tua Kepada Anak: Meneladani Kehidupan Luqmanul Hakim

Oleh: Chandra Aditya
(Anggota Majelis Tabligh PDM Kota Kediri)

‎Saudara ku Islam menjadikan kasih sayang orang tua sebagai fondasi utama dalam mendidik anak. Orang tua bukan hanya sebagai pemberi nafkah saja , tetapi juga menjadi seorang pembimbing, pengarah, dan teladan untuk anak. Anak adalah amanah yang dititipkan Allah, yang pastinya nanti akan dimintai pertanggung jawaban.

‎‎“Wahai orang orang yang beriman! Peliharalah dirimu dan keluargamu dari api neraka”. (Qs. At-Tahrim: 6)

‎‎Ayat ini secara tegas menyatakan bahwa bentuk kasih sayang orang tua terbesar adalah menjaga anak-anaknya dari api neraka, yaitu dengan mendidik mereka untuk mengenal Allah, membimbing untuk beribadah dan memberikan keteladanan dengan akhlak yang mulia.

‎‎Banyak orang tua yang beranggapan bahwa kasih sayang mereka kepada anak  cukup hanya dengan memberikan makanan enak, pakaian bagus, serta fasilitas yang mereka inginkan. Padahal kasih sayang orang tua yang nyata kepada anak adalah dengan membimbing mereka agar bisa selamat dunia dan akhirat.


‎Wasiat Emas Lukmanul Hakim

‎‎Luqmanul Hakim, seorang hamba Allah yang memberikan keteladanan serta bimbingan kepada anaknya, diabadikan dalam Al-Qur’an untuk menjadi contoh  orang tua masa kini, agar bisa mendidik, membimbing, anak-anak mereka menjadi anak yang shalih dan shalihah, selamat dunia dan akhirat. Terdapat dua pendapat tentang Luqmanul Hakim, pendapat pertama mengatakan bahwa Luqmanul Hakim ini adalah seorang nabi, pendapat kedua mengatakan bahwa Luqmanul Hakim adalah seorang yang Shalih. Dan mayoritas para ulama bersepakat bahwa Luqmanul Hakim adalah orang yang Shalih, yang diberikan hikmah oleh Allah. 

‎Diabadikan dalam Al-Qur’an tepatnya dalam surat Luqman ayat 12-19. Hal ini menjadi bukti bahwa nasihat orang tua adalah bentuk  kasih sayang  yang teramat besar untuk anaknya.

‎
‎‎* Menanamkan Tauhid

‎‎‎“Wahai anakku, janganlah engkau menyekutukan Allah, sesungguhnya syirik itu benar-benar kedzaliman yang besar”. (Qs. Luqman: 13)

‎‎Ayat ini adalah bukti kasih sayang orang tua yang tidak ingin anaknya tersesat. Ia mengarahkan anaknya kepada tauhid agar kehidupannya penuh keberkahan. Tauhid adalah fondasi utama yang harus kita ajarkan kepada anak, tanpa tauhid segala prestasi, harta, dan kedudukan yang dicapai seorang anak tidak ada nilainya disisi Allah.

‎
‎* Mengajarkan untuk berbakti dan bersyukur

‎‎ ” Dan Kami perintahkan manusia agar berbuat baik kepada kedua orang tuanya.” (QS. Luqman: 14)

‎‎Ayat ke 14 ini merupakan firman Allah yang disisipkan ditengah tengah nasehat Luqman kepada anaknya, terlepas dari itu kewajiban untuk mengajarkan anak berbakti kepada orang tua adalah mutlak adanya, karena anak bisa hadir di dunia, juga adanya sebab orang tua. Oleh sebab itu berbakti kepada orang tua dan bersyukur adalah keseimbangan kasih sayang terhadap manusia dan Allah.

‎
‎‎* Membiasakan beribadah

‎‎”Wahai anakku dirikanlah shalat” (Qs. Luqman: 17)

‎‎Di ayat ini Luqman menyampaikan”wahai anakku dirikanlah shalat” , tentunya ini merupakan  kasih sayang orang tua yang penuh kasih tidak hanya menyuruh anaknya untuk belajar, dan mencari dunia saja, tetapi juga membiasakan ibadah sejak kecil. Karena shalat adalah fondasi utama untuk membentuk karakter akhlak yang baik serta penjaga jiwa dari sifat tercela.

‎‎Setelah itu dikalimat yang berikutnya (Qs. Luqman: 17) Luqman mengajarkan akan pentingnya amar ma’ruf nahi munkar dan kesabaran, artinya seorang anak harus di didik untuk memiliki sikap tegas dalam kebenaran dan bersabar ketika ujian hidup itu menimpa.

‎
‎‎* Mendidik akhlak dan kesopanan

‎‎”Janganlah engkau memalingkan wajah dari manusia dengan sombong dan jangan berjalan di bumi dengan angkuh.” (QS. Luqman: 18)

‎‎Di ayat ini Luqman menutup nasehat kepada anaknya untuk tidak berperilaku sombong dan suka merendahkan yang lain, tentunya ini adalah pelajaran penting orang tua untuk mengajarkan dan mendidik anak agar memiliki akhlak yang baik , mengajarkan kerendahan hati , sopan santun dan sederhana dalam pergaulan. 

‎Sejalan dengan itu memang benar kita hidup didunia ini tidak boleh sombong dan angkuh, serta suka merendahkan orang lain. Diayat yang lain Allah sudah menegaskan: 

‎‎”Dan janganlah engkau berjalan di bumi ini dengan sombong, karena sesungguhnya engkau tidak akan dapat menembus bumi dan tidak akan mampu menjulang setinggi gunung”. ‎(Qs. Al-Isra’: 37) 

‎
‎Kondisi Zaman Sekarang

‎‎Saudara ku hari ini kita hidup di zaman modern yang penuh dengan tantangan. Anak-anak lebih dekat dengan gadget mereka  dibanding dengan orang tuanya. Banyak orang tua yang sibuk mencari nafkah hingga lupa mendidik anak. Bahkan ada orang tua yang sudah merasa cukup hanya dengan memasukkan anak ke sekolah, tanpa mendampingi mereka dalam ibadah dan akhlak. Kita sudah diingatkan oleh Nabi Shalallahu ‘Alaihi Wasallam, bahwa masing masing dari kita ini adalah pemimpin yang nantinya akan dimintai pertanggung jawaban terhadap yang dipimpinnya: 

‎‎”Setiap kalian adalah pemimpin, dan setiap kalian akan dimintai pertanggungjawaban atas yang dipimpinnya.” (HR. Bukhari Muslim)

‎Maka, orang tua adalah pemimpin dalam rumah tangga, dan anak-anak adalah amanah yang harus kita jaga dengan kasih sayang. 

‎
Penutup

‎‎Saudara ku mari kita jadikan kisah Luqmanul Hakim ini sebagai keteladanan dalam mendidik anak-anak kita. Tunjukkan kasih sayang dengan mengajarkan tauhid, membimbing mereka dalam ibadah, menanamkan akhlak mulia, serta mendoakan mereka dalam setiap kesempatan.

‎‎Semoga Allah menjadikan kita sebagai orang tua yang penuh kasih sayang, dan menjadikan anak-anak kita sebagai generasi yang shalih dan shalihah, agar menjadi penyejuk mata di dunia, serta pemberi syafa’at di akhirat kelak.

Jangan Padamkan Cahaya Ilmu dengan Kemaksiatan

‎‎Oleh : Chandra Aditya
(Anggota Majelis Tabligh PDM Kota Kediri)

‎Saudara ku, ada sebuah nasehat yang tertulis di dalam Kitab Ta’lim Muta’allim karya Imam Burhanuddin Az-Zarnuji, kitab yang masyhur di kalangan pesantren bahkan juga sering menghiasi kajian-kajian di majelis taklim pada umumnya. Begitu banyak nasehat dan motivasi yang tertulis di dalam kitab tersebut untuk mendorong semangat para pencari ilmu dalam proses belajar mereka.

‎‎Nasehat itu sejatinya tidak hanya diperuntukkan bagi para pelajar di bangku sekolah atau santri di pondok pesantren saja, tetapi berlaku untuk setiap muslim. Dalam Islam, kewajiban menuntut ilmu itu tidak dibatasi oleh usia, jabatan, ataupun status sosial. Selama Allah masih memberikan usia, kewajiban  menuntut ilmu tetap melekat pada diri setiap muslim, sebagaimana yang Nabi Shalallahu ‘Alaihi Wasallam sabdakan:

‎‎“Menuntut ilmu itu wajib bagi setiap muslim.”
(HR. Ibnu Majah)

‎‎Hadits ini tentunya menjadi dasar bahwa ilmu adalah jalan bagi seorang hamba untuk mengenal Allah, memperbaiki ibadah, menata akhlak, serta meraih kebahagiaan dunia dan akhirat. Tanpa ilmu, ibadah akan kehilangan ruhnya, dan amal yang dikerjakan akan jauh dari tuntunan syariat.

‎Namun, dalam perjalanan menuntut ilmu, ada satu hal yang sangat penting untuk dijaga yaitu menjauhi kemaksiatan. Sebab, kemaksiatan dapat memadamkan cahaya ilmu dari hati seorang penuntut ilmu, inilah yang  ditekankan oleh para ulama terdahulu.

‎Nasehat Imam Waki’ kepada Imam Syafi’i

‎Kita tahu Imam Syafi’i adalah seorang yang luar biasa dalam keilmuan, bahkan di usia yang sangat masih muda beliau sudah mampu menghafal kitab Muwataa’ karya Imam Malik, dikenal dengan pribadi yang memiliki hafalan sangat kuat, namun di satu kesempatan Imam Syafi’i  pernah menyampaikan pengalamannya kepada gurunya, Imam Waki’, beliau mengadukan kesulitan dalam menghafal, lalu sang guru memberikan nasehat yang sangat berharga:

‎‎ شَكَوْتُ إِلَى وَكِيعٍ سُوءَ حِفْظِي

‎فَأَرْشَدَنِي إِلَى تَرْكِ الْمَعَاصِي

‎وَأَخْبَرَنِي بِأَنَّ الْعِلْمَ نُورٌ

‎وَنُورُ اللهِ لَا يُعْطَى لِعَاصِي

‎‎“Aku mengadukan kepada Waki’ tentang buruknya hafalan ku, lalu beliau menasihati ku agar meninggalkan maksiat. Dan beliau berkata: Ketahuilah, ilmu adalah cahaya, dan cahaya Allah tidak akan diberikan kepada pelaku maksiat.”

‎‎Nasehat Imam Waki’ kepada Imam Syafi’i ini tentunya menjadi pelajaran yang mendalam bagi kita semua, bahwa kemaksiatan bukan hanya menjauhkan kita dari Allah, tetapi juga menghalangi masuknya cahaya ilmu ke dalam hati.

‎‎Oleh sebab itu, siapa saja yang ingin memperoleh keberkahan ilmu, hendaklah ia selalu mendekatkan dirinya dengan ketaatan, serta menghiasi dirinya dengan adab dan akhlak mulia. Sebab ilmu bukan sekedar catatan di buku atau hafalan di kepala saja, tetapi cahaya yang Allah tanamkan di dalam hati seorang hamba yang bersih dari dosa dan kemaksiatan.

‎
‎Kesimpulan

‎‎Saudara ku, menuntut ilmu adalah kewajiban sepanjang usia, namun keberkahan ilmu hanya akan diraih jika kita menjaga hati dari noda kemaksiatan. Mari kita renungi kembali nasehat para ulama dan berupaya bersungguh-sungguh menjadikan ilmu sebagai jalan untuk mendekatkan diri kepada Allah. Jangan sampai cahaya ilmu yang begitu berharga itu padam karena ulah kita sendiri yang terjerumus dalam dosa.

Ketika Ibadah Tidak Membuat Kaya: Menjawab Keraguan Dengan Kacamata Islam

Oleh: Chandra Aditya
(Anggota Majelis Tabligh PDM Kota Kediri)

‎Saudaraku…Didalam kehidupan sehari-hari, mungkin kita sering mendengar keluhan dari sebagian orang yang tengah berada dalam kesulitan ekonomi atau keterbatasan hidup. Mereka berkata:
“Sudah capek-capek bekerja, kok tidak kaya-kaya juga? Sudah rajin sholat, ngaji, dan beribadah, tapi hidup tetap susah. Buat apa sholat? Buat apa ngaji kalau tidak bisa kaya?”

‎‎Tentunya kalimat semacam ini menggambarkan sebuah rasa kekecewaan dan kesalahpahaman sebagian manusia tentang tujuan hidup dan makna dari ibadah. Mereka mengukur nilai ibadah hanya dengan nilai duniawi, padahal Islam telah menjelaskan bahwa kekayaan bukanlah tujuan utama kehidupan, melainkan sarana untuk beribadah kepada Allah.

‎‎”Dan Aku tidak menciptakan jin dan manusia melainkan supaya mereka menyembah-Ku.”
(QS. Adz-Dzariyat: 56)

‎‎Ayat ini menegaskan bahwa tujuan utama manusia diciptakan bukanlah untuk mengejar kekayaan, jabatan, atau kenikmatan dunia semata, melainkan untuk beribadah kepada Allah. Imam Al Ghazali  menjelaskan bahwa hakikat ibadah adalah mengarahkan seluruh hati kepada Allah dengan sepenuhnya, tunduk, dan ketaatan. Artinya, ibadah bukanlah transaksi untuk mendapatkan dunia, tetapi pertemuan seorang hamba dengan Rabb-nya.

‎‎Kekayaan hanyalah salah satu ujian yang Allah titipkan, ada orang yang Allah uji dengan kelapangan dan ada pula yang di uji dengan kesempitan, dan semua ini sama-sama ujian.

‎‎Kita bisa melihat dan membaca firman Allah pada ayat 155 surat Al-Baqarah:
“Dan Kami pasti akan menguji kamu dengan sedikit ketakutan, kelaparan, kekurangan harta, jiwa, dan buah-buahan. Dan sampaikanlah kabar gembira kepada orang-orang yang sabar.”

‎‎Ayat ini menegaskan bahwa kemiskinan bukanlah tanda Allah tidak sayang, begitu pula kekayaan bukan berarti Allah ridha. Keduanya hanyalah bentuk ujian hidup. 

‎Oleh karena itu ibadah adalah solusi,  Bukan sebagai penghalang rezeki.

‎ ‎Rasulullah Shalallahu ‘Alaihi Wasallam mengatakan : 
‎”Barangsiapa bertakwa kepada Allah, niscaya Allah menjadikan baginya jalan keluar (dari segala masalah) dan memberinya rezeki dari arah yang tidak disangka-sangkanya.”
(HR. Abu Dawud dan Tirmidzi)

‎‎Hadits ini menegaskan bahwa ibadah, taqwa, dan membangun kedekatan kepada Allah justru menjadi kunci utama datangnya rezeki. Rezeki bukan hanya berupa harta, tetapi juga kesehatan, ketenangan hati, keluarga yang baik, dan keberkahan dalam hidup.

‎‎Dan juga dikuatkan lagi didalam (Qs :  at-talaq ayat 2-3 ) bahwa ketaqwaan adalah kunci pembuka segala pintu rezeki

‎Agama Sebagai Solusi Kehidupan

‎Sudaraku…Islam bukan hanya mengajarkan ibadah ritual, tetapi juga memberikan solusi dalam menghadapi kesulitan hidup. Agama mengajarkan kesabaran, kerja keras, ikhtiar yang benar, serta tawakkal kepada Allah. Inilah fondasi utama yang membuat hidup menjadi tenang dan penuh keberkahan, meski tidak selalu bergelimang harta.

‎‎Allah berfirman:|
‎”Barangsiapa mengerjakan amal saleh, baik laki-laki maupun perempuan dalam keadaan beriman, maka sesungguhnya akan Kami berikan kepadanya kehidupan yang baik. Dan sesungguhnya akan Kami beri balasan kepada mereka dengan pahala yang lebih baik dari apa yang telah mereka kerjakan.”
‎(QS. An-Nahl: 97)

‎‎Ayat ini menunjukkan bahwa kehidupan yang baik tidak selalu identik dengan kekayaan. Hidup yang baik adalah hidup yang penuh keberkahan, ketenangan hati, dan kebahagiaan yang Allah limpahkan.

‎‎Kesimpulan

‎‎Saudaraku… ketika muncul sebuah pertanyaan  “Buat apa sholat? Buat apa ngaji kalau tidak bisa kaya?”, jawaban Islam sudah sangat jelas , bahwa ibadah bukanlah jalan menuju kekayaan dunia, tetapi jalan menuju keberkahan hidup dan kebahagiaan akhirat. Kekayaan hanyalah ujian, sementara ibadah adalah kebutuhan jiwa.

‎ Agama adalah solusi dari setiap permasalahan, karena ia memberi arah, ketenangan, dan jawaban atas segala kebingungan hidup. Dengan ibadah, hati menjadi lapang, rezeki menjadi berkah, dan hidup memiliki tujuan yang sebenarnya.

Teruslah Berbuat Kebaikan, Agar Ketika Meninggalkan Dunia Kebaikanmu Akan Selalu Dikenang

Oleh : Chandra Aditya
(Anggota Majelis Tabligh PDM Kota Kediri)

Sudaraku…Dalam kehidupan kita didunia yang singkat ini, tentunya setiap manusia  mendambakan agar kehadirannya selalu memberikan sebuah arti yang bermakna, tidak ada satupun di antara kita yang ingin hidup tanpa meninggalkan bekas kebaikan. Inilah mengapa agama Islam menekankan akan pentingnya berbuat baik, karena kebaikan tidak hanya bermanfaat bagi orang lain saat kita masih hidup, tetapi juga akan menjadi legacy amal yang terus mengalir bahkan setelah kita tiada. Ini selaras dengan apa yang Allah firmankan di dalam surat Yasin ayat ke 12 :

“Sesungguhnya Kami menghidupkan orang-orang mati dan Kami menuliskan apa yang telah mereka kerjakan dan bekas-bekas yang mereka tinggalkan. Dan segala sesuatu Kami kumpulkan dalam Kitab yang nyata.”

Ayat ini menegaskan bahwa amal perbuatan setiap manusia tidak akan  pernah hilang begitu saja. Allaah selalu mencatat apa yang telah dilakukan hambanya selama hidup di dunia, bahkan bekas-bekas yang ditinggalkan setelah ia meninggalkan dunia ini. Inilah bukti bahwa kebaikan yang kita lakukan, sekecil apa pun itu, akan tetap selalu dikenang dan memberi dampak meskipun diri kita sudah tiada.

Warisan kebaikan yang tidak pernah hilang

Nabi Muhammad Shalallahu ‘Alaihi Wassalam menyampaikan :

“Apabila anak Adam meninggal dunia, maka terputuslah amalnya kecuali tiga perkara: sedekah jariyah, ilmu yang bermanfaat, atau anak shalih yang mendoakannya.” (HR. Muslim)

Hadis ini tentu nya selaras dengan makna  surat Yasin ayat : 12 . bahwa setiap amal kebaikan akan terus mengalir meskipun seseorang itu sudah tiada.

* Sedekah jariyah : bisa dengan mewakafkan harta bendanya untuk kebaikan, membangun fasilitas umum  yang bermanfaat, atau dengan membangun sumur.

* Ilmu yang bermanfaat : mengajarkan membaca dan menulis , mengajarkan Al-Qur’an, atau memberi ilmu yang membawa kemaslahatan.

* Do’a anak shalih : dengan mendidik anak-anak kita agar menjadi pribadi yang beriman dan bertakwa, yang di harapkan nantinya ketika kita sudah tiada, kebaikan dan do’a mereka menjadi tambahan nikmat kebaikan untuk kita.

Saudaraku….ketiga hal ini adalah bentuk nyata dari jejak kebaikan yang disebut ayat diatas. Namun perlu kita ingat juga kebaikan yang dikenang tidaklah harus yang memiliki nilai besar dihadapan manusia, melainkan yang benar-benar ikhlas karena Allah, terkadang ada seseorang yang mungkin tidak dikenal luas, tetapi do’a dan rasa terimakasih dari orang-orang yang pernah ditolongnya akan menjadi saksi dihadapan Allah.

Ada seorang ahli hikmah mengatakan :

“Hiduplah dengan meninggalkan jejak, karena kematian bukanlah akhir. Sesungguhnya amal yang engkau tinggalkan yang akan menjadi saksi setelahmu”

Oleh sebab itu saudaraku…mari kita tanamkan kebaikan didalam setiap kesempatan kita, entah itu dengan : senyuman dan salam, menolong sesama, bergaul dengan baik, tidak menyakiti hati, atau dengan menebarkan ilmu yang bermanfaat.

Kesimpulan

Saudaraku…hidup ini singkat dan mati itu adalah kepastian. Namun yang menentukan apakah kita dikenang kebaikannya atau dilupakan begitu saja adalah amal yang kita tinggalkan. Surat Yasin ayat 12 mengingatkan kita bahwa Allah mencatat bukan hanya apa yang kita lakukan saja , tetapi juga bekas amal itu setelah kita tiada.

Maka mari kita terus berbuat kebaikan, sekecil apapun itu, karena kebaikan yang ditanam dengan rasa ikhlas akan menjadi legacy abadi yang mengalirkan pahala di alam kubur, dan meninggalkan kenangan indah untuk orang-orang yang masih hidup.

Pengaruh Kesalehan Orang Tua Terhadap Kesuksesan Anaknya

Oleh : Chandra Aditya
Anggota Majelis Tabligh PDM Kota Kediri

Refleksi Sosial

Siang itu sebelum berangkat ke kampus, iseng saya mampir ke lapak pak Yuli, penjual es puter dan rujak buah, kebetulan beliau satu alumni juga dengan saya di salah satu SMA Negeri di Kediri, tapi senior jauh dari saya. Sambil menikmati es puter yang di hidangkan, kita mengobrol tak tentu arah, namun ada satu obrolan yang membuat takjub perasaan ini, ketika saya tanya.. ‘Putra ne pinten Pak Yul’ (anaknya berapa Pak Yul ?)

‘Kaleh mas’.. (dua mas), jawabnya,

‘Tasek sekolah nopo sampun nyambut pak ?’ (masih sekolah atau sudah kerja Pak ?), sambung saya,

‘Nggih, Alhamdulillah wes nyambut mas, setunggale dados guru, setunggale teng Ambon’ (Iya, Alhamdulillah sudah kerja mas, satunya jadi guru, satunya lagi di Ambon),

Lanjut Pak Yuli dalam obrolan, nggih Alhamdulillah mas, atiku wes marem mas, anak-anak ku ditampi dados ASN sedanten (iya alhamdulillah mas, hati ku sudah puas/lega mas, anak anak ku diterima ASN semuanya)

Pada momen obrolan inilah yang membuat hati takjub, seorang bapak yang hanya berjualan es puter rujak buah. Mampu membawa anak-anak nya mencapai sebuah kesuksesan. Rasa penasaran ini terus menyelimuti hati, saya tanya lagi ‘Pak Yul, dibalik kesuksesan anak-anak e samean mesti ada pengorbanan e wong tuo, kiro kiro nopo resep e ?’ (Pak Yul, dibalik kesuksesan anak anak pasti ada pengorbanannya sebagai orang tua, kira kira apa resepnya ?),

Sambil tersenyum beliau menyampaikan ‘sampun rezekine mas’, saya timpal ‘hehehe rezeki niku sudah mutlak Pak Yul, tapi kan ya mesti ada pengorbanan, tirakat orang tua yang bisa menjadi wasilah kesuksesan anak to’,

‘Nganu mas, kulo niki kaleh nyonya niku sering tirakat Puasa Daud, sampek sak niki,  nggih mungkin niki salah setunggal e sebab e lak kulo pikir pikir’ (anu mas, saya sama istri sering Puasa Daud, sampai sekarang, mungkin ini salah satu penyebabnya kalau saya pikir pikir), 

Relevansi dengan ayat 82 surat Al Kahfi

Tidak sedikit orang tua lupa sebab non-material yang kasat mata -boleh jadi memiliki pengaruh lebih besar kepada keshalihan dan kesuksesan anak seperti doa, menjaga ibadah dan jenis keshalihan lainnya.

Al-Qur’an telah menyebutkan faktor penting untuk anak dan sebab sukses anak yaitu keshalihan orang tua. Keberkahan amal shalih orang tua akan menurunkan kebaikan dan kesuksesan kepada anak-anaknya. Kedekatan orang tua kepada Allah memiliki pengaruh kuat untuk kebaikan. Sebagaimana yang difirmankan Allah :

وَأَمَّا الْجِدَارُ فَكَانَ لِغُلَامَيْنِ يَتِيمَيْنِ فِي الْمَدِينَةِ وَكَانَ تَحْتَهُ كَنْزٌ لَهُمَا وَكَانَ أَبُوهُمَا صَالِحًا فَأَرَادَ رَبُّكَ أَنْ يَبْلُغَا أَشُدَّهُمَا وَيَسْتَخْرِجَا كَنْزَهُمَا رَحْمَةً مِنْ رَبِّكَ وَمَا فَعَلْتُهُ عَنْ أَمْرِي ذَلِكَ تَأْوِيلُ مَا لَمْ تَسْطِعْ عَلَيْهِ صَبْرًا

“Adapun dinding rumah itu adalah kepunyaan dua orang anak yatim di kota itu, dan di bawahnya ada harta benda simpanan bagi mereka berdua, sedang ayahnya adalah seorang yang shaleh, maka Tuhanmu menghendaki agar supaya mereka sampai kepada kedewasaannya dan mengeluarkan simpanannya itu, sebagai rahmat dari Tuhanmu dan bukanlah aku melakukannya itu menurut kemauanku sendiri. Demikian itu adalah tujuan perbuatan-perbuatan yang kamu tidak dapat sabar terhadapnya.” (QS. Al-Kahfi: 82)

Allah memerintahkan kepada Nabi Khidir untuk memperbaiki bangunan rumah yang hampir roboh itu dengan tujuan agar harta simpanan 2 orang anak yatim itu terjaga. Sebabnya, karena kesalihan bapak mereka.

Menukil Keterangan dari Sa’id bin Jubair  bahwa orang tua mereka selalu menunaikan amanat dan titipan kepada pemiliknya. Kemudian Allah Ta’ala menjaga harta simpanannya sehingga ditemukan kedua anaknya lalu keduanya mengambilnya.

Imam Ibnu Katsir didalam tafsirnya berkata tentang ayat 82 surat Al Kahfi : 

“Di dalamnya ada dalil bahwa laki-laki yang shalih akan dijaga keturunannya. Ini mencakup keberkahan ibadahnya untuk anak turunnya di dunia dan akhirat dengan syafaatnya untuk mereka, diangkat derajat mereka ke tingkatan lebih tinggi di surga agar gembira melihat mereka sebagaimana diterangkan di Al-Qur’an dan disebutkan Sunnah.”

‎Kesimpulan

‎‎Dari obrolan singkat itu, membuat termenung didalam hati , “mungkin orang tua tidak bisa merasakan keberhasilan didalam hidupnya saat ini , namun apa yang sudah dikorbankan dengan tidak meninggalkan ketaatan kepada Allah, mungkin inilah jalan keberhasilan untuk anak anaknya”. Masih panjang obrolan kami, tapi inilah titik dimana membuat saya berfikir.

Merubah Keluh Kesah Menjadi Optimisme

Oleh : Chandra Aditya
(Anggota Majelis Tabligh PDM Kota Kediri)

Saudara ku di dalam Al Qur’an surah Al-Ma’arij, Allaah telah menyebutkan karakter buruk yang ada di dalam diri manusia, tepat nya di dalam ayat ke 19 sampai dengan 21.

Di dalam ayat ke 19, Allaah mengatakan “Sungguh manusia diciptakan suka mengeluh”, ya manusia sering mengeluhkan apa yang dirasakannya di dalam kehidupan ini, misalnya ketika diberi nikmat sedikit mengeluh atau diberi nikmat banyak merasa kurang.

Kemudian di ayat ke 20, Allaah mengatakan “Apabila dia ditimpa kesusahan, dia berkeluh kesah”, tentu di dalam hidup di dunia ini setiap individu pasti akan merasakan sebuah ujian kehidupan, dan tentunya hal itu sangat lumrah dan wajar karena di dalam ayat yang lain pun Allaah juga banyak menyampaikan, manusia itu pasti akan di uji, entah itu dengan kesusahan, kesedihan dan juga kekurangan, namun banyak diantara manusia yang salah dalam menyampaikan keluh kesahnya, bahkan tak jarang kita jumpai di media sosial mereka menuliskan keluh kesah atas kondisi kehidupannya, seperti tanpa sadar bahwa banyak orang yang akan menyaksikannya.

Lalu di ayat ke 21 , Allaah mengatakan “Dan apabila mendapat kebaikan (harta) dia menjadi kikir”, tatkala akses rezeki dibuka atau dimudahkan oleh Allaah, manusia menjadi lalai bahkan tak jarang menjadi sombong dan juga kikir.

Kisah Qorun

Bila kita melihat sejarah manusia dan karakternya seperti yang difirmankan oleh Allaah tersebut, tentu hal itu tidak jauh berbeda dengan kisah Qorun, Qorun sebelum menjadi manusia yang kaya raya hanyalah seorang yang miskin, untuk memenuhi kebutuhan hidupnya saja dia tidak mampu dan selalu berkeluh kesah.

Pada suatu hari karena sudah tidak tahan dengan kondisinya, Qorun mendatangi nabi Musa a.s. dan menyampaikan terkait kondisinya, Qorun kemudian meminta didoakan nabi Musa a.s. agar menjadi manusia yang kaya raya, dan dengan kekayaannya itu dia bisa lebih mendekatkan diri kepada Allaah.

Lalu nabi Musa a.s. mendoakannya dan dikabulkan oleh Allaah permintaan Qorun tersebut, Qorun menjadi manusia yang kaya raya, bahkan kunci gudang harta karun nya saja tak mampu diangkat oleh puluhan orang sekalipun.

Namun tatkala Qorun diingatkan oleh nabi Musa a.s. untuk mengeluarkan sebagian kekayaannya untuk Allaah, apa yang dikatakannya “kekayaan yang aku dapatkan ini tidak ada urusannya dengan Allaah, semua ini ku dapatkan dari hasil usaha ku sendiri dan jerih payah pikiran ku”, oleh sebab inilah karena kekikiran dan kesombongannya, Qorun ditenggelamkan ke dasar bumi bersama harta-harta nya.

Membangkitkan Rasa Optimisme

Setelah kita membaca dan mentadabburi Al Qur’an surah Al-Ma’arij ayat 19 sampai dengan 21 ini maka pahamlah kita bahwa sesungguhnya manusia mampu merubah rasa keluh kesah nya dengan rasa “optimisme”, kunci nya pada ayat yang berikutnya, Allaah menyampaikan “kecuali orang-orang yang mendirikan sholat, mereka yang tetap setia melaksanakan sholat” (ayat 22-23).

Mengapa disebutkan kecuali orang-orang yang sholat ?

* Pertama :

Orang yang selalu mendirikan sholat itu hati nya akan diliputi rasa ketenangan, menjadikan dia tidak mudah untuk berkeluh-kesah atau mengeluh. Di al Qur’an pada surah dan ayat yang lain Allaah menyampaikan “yaitu orang-orang yang beriman dan hati mereka menjadi tenteram dengan mengingat Allaah, hanya dengan mengingat Allaah hati menjadi tenteram” (QS. Ar-Ra’ad : 28).

* Kedua :

Orang yang selalu mendirikan sholat membangun hubungan yang kuat dengan Allaah, di dalam dirinya akan tertanam rasa “optimisme”, yakin di setiap kesusahan, kekurangan dan juga ujian yang dihadirkan kepada dirinya pasti akan ada jalan keluar, ada kemudahan yang akan didapatkannya, bahkan akan mendapatkan sebuah rezeki yang tidak disangka-sangka oleh nya.

“Barang siapa yang bertakwa kepada Allaah niscaya Dia akan membukakan jalan keluar baginya, dan Dia memberinya rezeki dari arah yang tidak disangka-sangka” (QS. At-Talaq : 2-3).

* Ketiga :

Orang yang sudah terikat hubungan kuat dengan Tuhan nya, hatinya akan selalu tenang dan optimis, dia akan mampu mengembangkan potensi di dalam diri nya untuk bisa menciptakan sebuah peluang baru, dimana peluang baru ini akan bisa melepaskannya dari kesulitan atau ujian yang dihadapinya itu.

Kesimpulan

Di dalam kehidupan kita di dunia ini tentunya tidak lepas dari sebuah ujian, setiap manusia memiliki ujian yang dihadapinya masing-masing, oleh sebab itu ketika kita diuji oleh Allaah, sesungguhnya tidak pantas kita untuk berkeluh kesah, mengeluh dengan sebab ujian yang dihadirkan-Nya.

Ujian kehidupan adalah sebuah proses untuk setiap insan bisa menapaki jalan spiritual nya, membangun sebuah hubungan yang mungkin sudah lama terputus dengan Allaah, dengan menapaki jalan spiritual inilah kita harapkan akan muncul sebuah rasa “Optimisme” di dalam hidup, sehingga kita bisa mengembangkan seluruh potensi diri, agar bisa terlepas dari kesulitan ujian itu sendiri.

Maka mari kita perbaiki hubungan kita dengan Allaah, dengan selalu memperbanyak mengingat-Nya, agar tumbuh suatu “keyakinan” bahwa di setiap kesulitan pasti ada kemudahan, sehingga kita bisa “merubah keluh kesah menjadi optimisme”.

Kuatkan Dakwah di Era Modern, Muhammadiyah Mojoroto Gelar Upgrading Da’i Muda

Kediri, 2-3 Mei 2025 — Para calon da’i muda dari Muhamadiyah wilayah Mojoroto, Kota Kediri, Pemuda Muhammadiyah Mojoroto dan Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah berkumpul dalam acara Upgrading Da’i Muda: Menguatkan Keilmuwan di Tengah Tantangan Zaman. Kegiatan intensif selama dua hari tersebut digelar oleh Majelis Tabligh Pimpinan Cabang Muhammadiyah Mojoroto Kota Kediri di Aula Panti Asuhan Muhammadiyah Putra, Jalan KH. Ahmad Dahlan No. 39, pada Jumat-Sabtu (2-3 Mei 2025).

Acara ini dirancang sebagai bentuk pengembangan kapasitas bagi generasi muda yang aktif dalam dakwah, baik di masjid, sekolah, kampus, maupun platform digital. Dengan menggabungkan pendalaman ilmu agama, kemuhammadiyahan serta pelatihan keterampilan komunikasi, kegiatan ini menjadi respons strategis terhadap tantangan dakwah di era informasi yang penuh gejolak.

“Ini adalah upaya membangun da’i yang memiliki pondasi ilmu yang kuat, nalar yang baik, serta kemampuan berbicara yang handal,” informasi dari Ust. Chandra Aditya, sebagai penyelenggara program, yang merupakan Anggota PC Muhammadiyah Mojoroto Kota Kediri yang menaungi Majelis Tabligh.

Disini juga ditekankan pentingnya keseimbangan antara keilmuan otentik dan relevansi kontemporer. Da’i hari ini tak bisa hanya mengandalkan hafalan kutipan. Mereka harus mampu membaca perkembangan zaman, menyaring hoaks, merespons isu sosial dengan kepala dingin, dan menyampaikan pesan Islam yang rahmatan lil ‘alamin.

Selama dua hari, para peserta dibekali materi strategis oleh sejumlah narasumber terpercaya, antara lain Ust. Ahmad Khoirudin, M.Pd.I, Ust. Ali Mursidi, M.Pd.I, Ust. Achmad Mustofa, S.S, dan Ust. Choirul Anwar, S.H. Materi yang disampaikan mencakup empat pilar utama:

  1. Pemahaman Keagamaan yang Mendalam: Melalui topik seperti Sejarah Islam dan Ketarjihan Muhammadiyah, peserta diajak memahami akar-akar ajaran Islam secara historis dan metodologis.
  2. Literasi & Nalar Kritis: Peserta dilatih untuk menyaring informasi, menghindari radikalisme, serta merespons isu-isu sensitif dalam seberapa penting da’i membaca.
  3. Keterampilan Komunikasi Modern: Pelatihan public speaking memberi bekal agar dakwah lebih menarik, relevan, dan mudah diterima generasi muda.
  4. Penguatan Mental & Spiritual: Fokus pada ketahanan mental, manajemen stres, dan spiritualitas agar da’i muda tidak cepat burnout atau terjebak dalam dakwah instan yang dangkal.

Dengan semangat tajdid (pembaruan) dan moderasi beragama, acara ini menjadi langkah nyata Muhammadiyah Mojoroto Kota Kediri dalam membentuk generasi ulama muda yang cerdas, santun dan tangguh di tengah arus zaman.